Pantai Marina Ampana

Pantai Marina ini terletak di ujung kota Ampana Kabupaten Tojo Unauna.

My Second son.... ANDRA

Andra.. kaget saat tahu kalau dirinya dijepret.. cepat besar my son..

Desa Kabalutan di Kepulauan Togean 2008

Desa yang berpenghuni sekitar 2000 orang, yang rata-rata dari suku Bajo..

Brimob di Tanah Runtuh Poso.

Insiden kontak senjata antara polisi dan kelompok sipil bersenjata di kawasan Gebangrejo,Poso Kota 22 Januari 2007 yang menewaskan empat belas orang masih meninggalkan kisah dan trauma yang mendalam.

Pantai Talise

Matahari senja di Pantai Talise Palu.

Brimob di Tanah Runtuh Poso.

Insiden kontak senjata antara polisi dan kelompok sipil bersenjata di kawasan Gebangrejo,Poso Kota 22 Januari 2007 yang menewaskan empat belas orang masih meninggalkan kisah dan trauma yang mendalam.

Sunset Wakai

Sunset di pelabuhan Desa Wakai Kepulauan Togean.

Tampilkan postingan dengan label Air Mata Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Mata Gaza. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Januari 2009

Israel Gagal Total di Perang Media


Dalam semua aspek dan persepektif yang ada, sangat sulit menerima dan memahami apa yang dilakukan oleh Israel terhadap Jalur Gaza. Bahkan ketika seseorang menyampaikan empati terhadap “serangan balasan Israel” akan Hamas, siapapun tidak akan bisa menemukan pembenaran kelakuan bejat taktik militer Negara Zionis itu.


Tiga pekan, maka hampir seluruh Gaza punah. Lebih dari 1100 orang tewas, setengah di antaranya adalah anak-anak dan wanita, dan 5000 terluka, dan itu tampaknya tak sedikitpun mengendurkan Israel untuk menghentikan agresinya itu.

Sejak dari dulu sampai sekarang, ketika Israel tengah melakukan kejahatan kemanusiaan, maka dengan serentak, Israel menerapkan penguasaan media yang seragam. Ketika Israel membombardir Lebanon di musim panas tahun 2006 lalu, para model yang berkebangsaan Israel dengan berbikini ria membanjiri semua halaman majalah di AS. Mantan Miss Israel, Gal Gadot mengaku diminta langsung oleh konsulat Israel di New York untuk memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benang pun sebagai bagian dari “pengalihan perang Israel”—demikian dilaporkan New York Post, Juni 2007. Dan sekarang ketika langit Gaza pekat oleh asap bom, taktik serupa juga diberlakukan. Majalah Maxim dan majalah serta tabloid bertiras tinggi di AS dan Eropa banyak memajang wanita bugil.

Tapi apakah sekarang Israel memenangkan perang media ini? Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni menyampaikan sebuah pesan di YouTube bahwa dengan membuat 1,5 juta orang Palestina di Jalur Gaza kelaparan, sekarat, terpenjara, dan dibom akan membuat dunia menjadi lebih damai, menjadi lebih baik, dan indah untuk demokrasi serta keamanan dunia. Namun, kenyataannya tidak selalu yang diharapkan para Zionis itu terwujud. Surat kabar di AS semakin hari semakin memperlihatkan obyektivitasnya. Selain memenuhi pesanan Tel Aviv, mereka juga menyisakan satu ruang kosong, dan membuat pertanyaan : 'Apa yang dimenangkan oleh Israel sebenarnya?

Kenyataannya, Israel sekarang tak bisa lagi memenangkan perang media di AS. Ribuan orang di negeri itu lebih berhati-hati dan memfilter semua berita yang masuk. Semua kenyataan perang yang ditimbulkan oleh Israel; potret bocah-bocah Palestina yang dibantai, sekolah PBB yang dihancurkan bom, gedung, rumah dan rumah sakit yang diratakan tanah, telah membuka mata semua orang di negeri itu.

Internet membuka semua kemungkinan bahwa Israel tak akan pernah bisa lagi menyembunyikan segala kelakukan barbarnya. Israel sekarang harus menghadapi kenyataan, strategi perang medianya tak berjalan. Warga AS dan Barat tak selamanya senang melihat paha mulus—sebaliknya, atas nama nurani, mereka bangkit ketika melihat bayi yang terkoyak karena bom.(sumber :eramuslim.com)

Lirik We Will Not Go Down (Song For Gaza) - Michael Heart


Ingin Download Lagunya silakan ke Klik di sini

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive


They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight


Gaza Merebut Simpati Dunia


Gaza boleh dibakar. Demikian juga masjid, rumah, dan sekolah. Pada saat bersamaan, para pemimpin dunia memperdebatkan siapa yang salah dan siapa yang benar.
Jalur diplomasi yang ditempuh, hanya menghasilkan kesia-siaan. Sebab, bom-bom tetap dijatuhkan bagaikan hujan asam. Wanita dan anak-anak dibunuh setiap malam.


Tapi, melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit, Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah kepulan asap. Pejuang Hamas tak akan menyerah melawan kekejaman negara Zionis itu. Semangat yang tak akan pernah mati.

Itulah cuplikan lagu Michael Heart, musisi asal Los Angeles, Amerika Serikat (AS), yang mendedikasikan lagunya itu untuk rakyat Gaza. Berbeda dengan album pop-rock sebelumnya, seperti Unsolicited Material yang dirilis Maret 2008, lagunya kali ini dapat diperoleh gratis melalui situsnya, www.michaelheart.com.

Sebagai gantinya, gitaris yang bermukim di Los Angeles sejak 1990 itu meminta siapa pun yang mengunduh lagu--dibuat Januari 2009--itu agar menyumbangkan dana kepada rakyat Palestina. Warga bangsa yang kini menjadi korban agresi Israel.

Dana itu dapat disumbangkan langsung ke salah satu yayasan atau organisasi sosial yang membantu rakyat Palestina. Michael yang pernah tinggal di Swiss, Austria, dan Timur Tengah itu menyebut di antaranya adalah Badan Pekerja dan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Badan PBB yang berdiri sejak 1949.

Michael memang bukan siapa-siapa. Dia hanya musisi yang menghabiskan waktu 18 tahun di rumah studionya dengan membuat berbagai album lagu bagi artis lokal di Los Angeles.

Tapi, dia punya cara tersendiri untuk mengekspresikan kejengkelannya. Apa yang disebutnya sebagai upaya meringankan penderitaan rakyat Palestina.

Kendati namanya tidak setenar musisi dunia, seperti John Lenon dengan Imagine atau Freedie Mercury dengan There Must Be More Life Than This, beberapa artis ternama pernah bekerja sama dengannya.

Sebut saja di antaranya Will Smith, Toto, Natalie Cole, The Temptations, Brandy, Jesse McCartney, Jessica Simpson, dan Phil Collins. Kelihaiannya sebagai gitaris dan keahliannya sebagai insinyur rekaman audio membuatnya dikenal sejumlah artis papan atas.

Alumnus sebuah sekolah rekaman, Full Sail, ini juga terlibat dalam beberapa proyek rekaman dengan produser Rodney Jerkins, Philippe Saisse, dan David Foster. Selain menghabiskan waktunya di studio rekaman, Michael yang fasih berbahasa Prancis ini kerap mengadakan tur musik, terutama masa-masa di awal tahun 1990.

Di antara turnya yang kemudian menjadi album adalah kolaborasinya dengan grup band jazz lembut Jango. Saat ini, dia tampil live dalam Mark & Brian Radio Program yang disiarkan Los Angeles Rock Radio Station 95.5 KLOS.

Michael Heart merupakan salah satu di antara warga dunia yang menolak terjadinya kejahatan kemanusiaan di Gaza. Memang, tidak harus menggelar demonstrasi untuk memperlihatkan simpati.

Michael dengan kemampuan yang dimiliki, membuat lirik lagu yang menggambarkan situasi horor rakyat Palestina di Gaza. Sumbangannya, untuk mengecam agresi Israel.

Lain Michael, lain pula penyanyi beken Annie Lennox dan komedian Alexei Sayle. Mereka punya cara yang berbeda untuk menyerukan dihentikannya kejahatan kemanusiaan di Gaza.

Pada Jumat (2/1) lalu di London, Inggris, bersama dengan mantan model, Bianca Jagger, dan mantan wali kota London, Ken Livingstone, mereka menggelar jumpa pers.

Lennox meminta diakhirinya apa yang mereka sebut pembantaian dan pembunuhan sistematis di Gaza. Israel harus menghentikan agresi militer yang dianggap sebagai respons atas serangan roket-roket Hamas.

''Saya berpikir atas nama seorang ibu dan manusia biasa, bagaimana ini (perang) dapat menjadi solusi bagi perdamaian,'' katanya dengan nada emosional. ''Bagaimana mencari jawaban dari masalah ini?'' lanjutnya.

Menurut Lennox, harus ada waktu di mana mereka yang terlibat konflik duduk satu meja. ''Saya berada di sini untuk mengekspresikan kebebasan berpendapat. Hak saya sebagai bagian dari dunia yang bebas untuk mendorong warga bangsa menentang resolusi konflik yang tak akan pernah berhasil.''

Alexei Sayle yang keturunan Yahudi-Lithuania meminta agar publik figur Yahudi untuk menyuarakan bahwa penyerbuan ke Gaza bukan atas nama mereka. ''Ketika Anda menyerang seseorang, tapi mengira Anda sebagai orang baik, bagaimana itu bisa terjadi?''

Sayle kemudian menyatakan, sering kali juru bicara Israel berdalih orang-orang yang mereka bunuh karena bersalah. Namun, dia justru menyebut itu sebagai pembunuhan dan pemerkosaan secara psikologis. Bentuk lain dari pembunuhan itu sendiri.

''Dan, itulah memang yang dilakukan Israel saat ini.'' Dia menambahkan, ''Saya sejatinya ingin memiliki kebanggaan menjadi seorang Israel. Tapi, kini saya malu.''

Dalam kesempatan yang sama, Bianca Jagger menyerukan dukungannya untuk segera mengakhiri perang tersebut. Presiden terpilih AS, Barack Obama, semestinya dapat berperan lebih menghentikan agresi itu.

''Warga dunia berharap banyak atas terpilihnya dia (Obama). Kami menunggunya agar segera menghentikan perang,'' kata Jagger.

Keesokan harinya, 20 ribu warga London tumpah ruah dalam long march dari Embankment di London ke Trafalgar Square. Lennox, Bianca Jagger, Alexei Sayle, dan Ken Levingston tampak di antara kerumunan massa menentang bombardemen Israel atas Gaza.

Michael Heart, Annie Lennox, dan Bianca Jagger kini tinggal menggantungkan harapan. Sebelum kekerasan itu berakhir, apa pun itu, simpati dunia telah berpihak ke rakyat Gaza.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More